Heritage Details

OVERVIEW

  • Place Type Public Facilities
  • Place Sub Type Museums, Galleries
  • Location DKI Jakarta
  • Place Status Public
  • Renovation Status Renovated
  • Architecture
    Category Colonial
  • Established1652
  • Source PDA

1652

Colonial

Museum Bahari

Jl. Pasar Ikan I No.1; Kel. Penjaringan; Kec. Penjaringan; Jakarta Utara 14440, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta

Kompleks Bangunan Museum Bahari didirikan tahun 1652, tetapi diubah beberapa kali sampai tahun 1759. Angka tahun perbaikan, perluasan atau penambahan gudang dapat dilihat di atas beberapa pintu museum, misalnya tahun 1718, 1719, atau tahun 1771.
Westzidjsche Pakhuizen atau Gudang Tepi Barat menyimpan persediaan pala, lada, dan kopi. Di antara gudang dan Tembok Kota, VOC menyimpan persediaan tembaga dan timah. Logam berharga tersebut diamankan terhadap hujan oleh suatu serambi gantung. Serambi gantung ini dimanfaatkan juga untuk patroli. Serambi ini dipasang pada lantai kedua gudang yang menghadap pelabuhan tetapi sudah lama dibongkar (Heuken, 2000:36-37).
Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya ketika perang dunia II meletus (1939-1945) bangunan ini menjadi tempat logistik peralatan militer tentara Dai Nippon. Setelah Indonesia merdeka, difungsikan untuk gudang logistik Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pos Telepon dan Telegram (PTT) (tahun 1962-1977).
Sejak Kali Besar tidak dapat lagi dialirkan langsung ke Kanal dan Pelabuhan Pasar Ikan, air tanah naik sehingga dinding-dinding museum lembab. Hal tersebut menyebabkan dinding maupun tiang kayu yang kuat mulai lapuk dan rusak sejak tahun 1984 (Heuken, 2000:36).
Bangunan-bangunan Westzidjsche Pakhuizen direnovasi Pemda DKI Jakarta dan diresmikan menjadi Museum Bahari pada 7 Juli 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin (Data Presentasi Sidang TSP Konservasi Museum Bahari, 2016).
Berdasarkan foto tahun 1920 dan 2016, nampak tidak ada perubahan pada bentuk bangunan. Perubahan berupa penaikan lantai bangunan yang berdasarkan informan, lantai bangunan Museum Bahari naik sekitar 1,5 sampai 2 meter. Bentuk atap dan komponen bangunan lainnya hanya mengalami perubahan material dengan bentuk bangunan menyesuaikan dengan bentuk awalnya.
Bagian sisa Tembok Kota Batavia tidak mengalami perubahan bentuk. Sisa Tembok Kota ini hanya mengalami perawatan berupa pengecatan ulang sehingga masih terlihat terawat seperti yang nampak saat ini.
Dibangun secara bertahap dan dipakai sebagai gudang (selama masa penjajahan Belanda, Jepang dan revolusi fisik). Tahun 1962-1977, gudang dikelola oleh Perumtel. Pada tanggal 7 Juli 1977 diserahkan ke Pemda DKI Jakarta yang menjadikannya Museum Bahari. Tembok keliling bangunan sangat kokoh karena merupakan bagian dari tembok kota Batavia. Bagian atas pagar terdapat pos pengintai juga terdapat lorong tempat melakukan patroli.


GENERAL AMENTITIES

Hotels Restaurant Public Transportation Parking

OFFICIAL PARTNER

SPONSOR

ARCHITECTURE HERITAGE COPYRIGHT 2018