Heritage Details

OVERVIEW

  • Place Type Structures
  • Place Sub Type Bridges
  • Location DKI Jakarta
  • Place Status Public
  • Renovation Status Original
  • Architecture
    Category Colonial
  • Established0
  • Source PDA

0

Colonial

Sisa Tembok Timur Kota Batavia

Jl. Tongkol Dalam; Kel. Ancol; Kec. Pademangan; Jakarta Utara, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta

Merupakan sisa tembok keliling kota Batavia pada abad ke 17-18 dan merupakan salah satu tembok pertahanan VOC terhadap serangan Kerajaan Mataram di sisi timur Kota.
Setelah tentara Mataram mengepung Batavia dua kali (1628 dan 1629), VOC menilai bagian Timur kota merupakan salah satu titik terlemah pertahanan kota. Oleh sebab itu, VOC memutuskan untuk memperluas pertahanannya ke arah Timur. Setelah Gubernur Jenderal Jacques Specx menjabat sebagai Gubernur di Batavia (1629-1632) menggantikan J.P. Coen, dibangunlah pagar di bagian timur kota dengan menggunakan tembok dari batu.
Dalam perkembangan berikutnya, sebagaimana tampak pada peta tahun 1632, pagar kayu yang memagari Kota Batavia di sebelah timur, diganti dengan tembok kota. Arahnya tidak miring lagi (arah tenggara-barat laut), tetapi sudah diluruskan membujur sesuai dengan orientasi utara-selatan.
Menurut Breuning dalam Mundardjito (2008:2) selain membangun kota baru, VOC— seperti ditunjukkan oleh peta tahun 1622— mendirikan juga benteng baru di sebelah timur benteng lama (Fort Jacatra ), karena benteng ini sudah tidak mampu lagi menampung aktivitas pemukimnya yang semakin kompleks. Benteng baru ini diberi nama “Kastil Batavia” (Kasteel Batavia). VOC juga mengembangkan kota di bagian timur Sungai Ciliwung ke arah selatan. Kota baru ini dikelilingi pagar dari kayu yang panjangnya sekitar 1.000 m. Sementara itu, sisi baratnya dibatasi dengan Sungai Ciliwung yang masih berkelok (meander ). Luas pemukiman baru saat itu sekitar 118.800 m2. Di kota baru ini sudah berdiri gereja dan balai kota (Stadhuis). Di kota baru ini sudah berdiri gereja dan balai kota (Stadhuis). Kastil Batavia dibangun menempel pada dinding sisi timur Fort Jacatra pada 1618. Bentuknya tidak jauh berbeda, tetapi ukurannya jauh lebih besar, yaitu sekitar 57.600 m2 atau empat kali lebih luas dari Fort Jacatra (14.400 m2). Kastil itu dilengkapi bastion pada setiap sudutnya, yaitu Bastion Diamant di sudut barat daya, Bastion Robijn di sudut barat laut, Bastion Saphier di sudut timur laut, dan Bastion Parel di sudut tenggara. Selain itu, Kastil Batavia dikelilingi kanal yang cukup lebar (Kasteel gragcht).
Selanjutnya demi menjaga keamanan J.P. Coen mengganti pagar keliling yang awalnya hanya terbuat dari bambu menjadi tembok dari tanah liat. Pembuatan perbentengan tersebut dimulai pada tahun 1618. Hal tersebut dilakukan karena sebelum serangan Mataram yang pertama ke Batavia, kota tersebut belum dikelilingi tembok. Di bagian timur kota hanya dibuat parit yang panjang dan dibuat tanggul dengan pagar kayu runcing di bagian atasnya, sedangkan di bagian selatan kota masih terbuka. Keadaan itu yang membuat J.P. Coen beserta dewan kota khawatir terhadap serangan dari pihak Mataram maupun Banten (Heuken, 2001:29). Pada tahun 1618 ketegangan memuncak. Tentara Pangeran Jayawikarta mengepung kubu Belanda, yang pada waktu itu mencakup dua gudang kokoh dari batu, yakni Nassau dan Mauritius (Heuken, 1997:30). Setelah tentara Mataram mengepung Batavia dua kali, yang berlangsung pada tahun 1628 dan 1629, VOC menilai bagian Timur kota merupakan salah satu titik terlemah pertahanan kota. Oleh sebab itu, VOC memutuskan untuk memperluas pertahanannya ke arah Timur. Setelah Gubernur Jenderal Jacques Specx menjabat sebagai Gubernur di Batavia (1629-1632) menggantikan J.P. Coen, dibangunlah pagar di bagian timur kota dengan menggunakan tembok dari batu.
Dalam perkembangan berikutnya, sebagaimana tampak pada peta tahun 1632, pagar kayu yang memagari Kota Batavia di sebelah timur, diganti dengan tembok kota. Arahnya tidak miring lagi (arah tenggara-barat laut), tetapi sudah diluruskan membujur sesuai dengan orientasi utara-selatan. Begitu juga Sungai Ciliwung diluruskan, sehingga terkesan seperti kanal buatan manusia. Menurut Breuning dalam Mundardjito (2008:3) Kota Batavia belahan timur yang sebelumnya memiliki luas sekitar 486.000 m2, kemudian hanya 290.600 m2. Tembok Kota Batavia belahan timur dilengkapi dengan beberapa bastion, antara lain Amsterdam, Middelburg, Rotterdam, Enkhuisen, Gelderland, Oranje dan Hollandia (Mundardjito, 2008:3).\\\".


GENERAL AMENTITIES

Hotels Restaurant Public Transportation Parking

OFFICIAL PARTNER

SPONSOR

ARCHITECTURE HERITAGE COPYRIGHT 2018